Langsung ke konten utama

Ketika Anak Sudah Siap Untuk Toilet Training

Tidak perlu memaksakan diri jadi Ibu yang sempurna, cukup jadi Ibu yang bahagia.


Mungkin kalimat itu cocok untuk menggambarkan alasan aku baru mengenalkan toilet training ke anakku, Rafa di usianya yang sudah menginjak 2 tahun. Sebelumnya sudah ada beberapa pertanyaan dari keluarga kenapa kok Rafa masih  full pake diapers. Padahal, sepupu-sepupunya yang lain biasanya sudah mulai lepas diapers di umur maksimal 1,5 tahun. Dan jawaban aku sederhana, "karena sebagai ibunya, aku belum siap".

Jujur, membayangkan bekas ompol di celana, rumah bau pesing lalu sibuk menggotong bocah ke kamar mandi sudah bikin aku capek sendiri. Jadi, daripada stress, pada saat itu aku berpikir biarlah waktu yang menjawab kapan sebaiknya toilet training ini dimulai.

Waktu yang Tepat

Sampai suatu ketika, Rafa kelihatan sudah mulai suka menggaruk bagian kulitnya yang bersentuhan langsung sama diapers. Terkadang kalau lagi beraktivitas yang menimbulkan keringat berlebih, kulitnya mulai kemerahan. Saat malam hari juga diapersnya sering kering kecuali setelah bangun tidur. Ditambah lagi, dia juga sempat tidak mau dipakaikan diapers. Deg! Langsung deh aku merasa kayaknya ini waktu yang tepat untuk memulai toilet training buat rafa. Ditambah lagi, harga diapers yang kalau dihitung-hitung sebulan habis hampir Rp300 ribu membuat aku rasanya ingin menempatkan pos pengeluaran itu untuk kebutuhan lain.

Sebelum benar-benar dimulai, aku banyak membaca cerita toilet training anak yang bersliweran di instagram atau blog orang lain, ataupun website parenting. Salah satu artikel yang aku baca tentang 6 Cara Mengajarkan Anak Toilet Training. Semakin yakinlah aku untuk memulai toilet training ini.


Untungnya, sebelumnya aku sudah mengajarkan Rafa buat BAK di toilet meskipun masih memakai diapers pada umur 1 tahun. Sehingga saat benar-benar mau melepas diapersnya, dia sudah tau bahwa kegiatan BAK maupun BAB tempatnya adalah di kamar mandi.

 

Lepas Diapers Full

Akhirnya hari itu tiba, di usia Rafa yang ke 24 bulan 7 hari, Rafa benar-benar full lepas diapers mulai dari pagi sampai sore. Setiap satu jam sekali ditawari  BAK ke kamar mandi. Kadang malah belum sejam sudah ngompol duluan dan anaknya tidak menunjukkan gelagat apapun. Tau-tau pas mau diajak BAK, celananya sudah basah. Hal itu bukan hanya sekali dua kali, tapi sering! Mulai deh aku stress dan bertanya-tanya apa aku sanggup ya?

 

Secercah Harapan

Karna rajin baca-baca pengalaman ibu-ibu pas memulai toilet training,  ternyata hampir semua mengalami kondisi yang sama, yaitu berat di awal tapi indah kemudian. Muncullah secercah harapan. Kalau mereka bisa, aku juga pasti bisa melewatinya.

 

Berani Lepas Diapers Malam Hari

Sekitar 3 hari, full lepas diapers cuma pagi sampai sore. Tapi saat hendak tidur malam, aku tetap memakaikan Rafa diapers atau training pants. Lalu kalau sudah bangun pagi baru aku gotong ke kamar mandi. Tapi setelah aku pikir lagi, sepertinya cara ini agak nanggung ya. Akhirnya aku beranikan diri untuk full lepas diapers dari pagi sampai pagi keesokan harinya. Finally, cara ini justru ampuh untuk Rafa. Terlebih, aku jadi semakin rajin sounding dan kalau dia terbangun di malam hari langsung aku bawa ke kamar mandi buat BAK, agar kasurnya tidak basah dan tidak membuat cucian numpuk. Hari ke-7 ternyata anaknya sudah bisa bilang kalau mau BAK dan sudah jarang banget ngompol. Hore!

 


Kesimpulan

Poin-poin yang aku lakukan hingga akhirnya Rafa bisa BAK dan BAB di kamar mandi adalah:

1. Sebelum lepas diapers, ajarkan anak buat BAK di kamar mandi dulu. Agar dia tahu tempat yang sesungguhnya untuk BAK dan BAB adalah di kloset kamar mandi.

2. Belikan celana dalam lucu gambar kesukaannya. Selain agar anak mau memakainya, aku pribadi suka gemes kalo pas lagi cuci celana anak karna imut dan warnanya cute, jadi cuci celana banyak-banyak pun tidak merasa berat.

3. Belikan potty atau kloset kecil untuk anak yang sesuai kebutuhan. Awal-awal Rafa pakai potty training semacam pispot yang dudukan di bawah. Tapi lama-lama dia kurang begitu suka akhirnya ganti dengan booster seat yang diletakkan di atas kloset dewasa.

4. Pas sudah merasa "deg"  alias tanda-tanda ini waktu yang tepat untuk memulai toilet training, langsung lepas full diapersnya  Karna kekhawatiran BAK sembarangannya lebih besar, kita jadi lebih berjuang untuk mengajak anak BAK dan BAB di toilet.

5. Sabar kalau anak BAK atapun BAB di celana. Karna judulnya training alias belajar. Butuh waktu. Biarkan saja anak merasakan sensasi BAK di celana, jadi dia akan merasa tidak nyaman dan paham bahwa BAK dan BAB itu ada prosesnya yaitu di kamar mandi.

6. Konsisten adalah kunci. Jangan sekali-kali goyah dan memakaikan diapers lagi, karna anak akan bingung harus BAK dan BAB di kamar mandi atau diapers. Selain itu, nanti kita bisa terlena dan lupa ajak anaknya ke kamar mandi. Akhirnya malah kembali lagi dari awal.

Oh iya, ini adalah cara saya pribadi ya dan bisa berbeda-beda hasilnya jika diterapkan pada anak lain. Tapi yang paling penting adalah tetap memperhatikan kesiapan Ibu dan anak. Karna yakin lah jika sudah siap keduanya, anak pasti akan toilet training pada waktunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkunjung ke Pasar Tradisional

Setelah bertapa sekian lama dan merutuki diri sendiri karna selalu terjangkit virus malas, akhirnya aku kembali ngeblog. I'm back eperibadeeehhh!! Eh, emang siapa gue yak. Berasa dinanti-nanti amat kedatangannya. Hihi. Akhirnya libur lebaran udah hampir selesai. Dan ini adalah masa-masa dimana para kuli harus membangkitkan mood buat memulai hari Senin.  Apaaa? Seninn?? Sejenis apa itu??!!  *mendadak amnesia* Daripada mikirin hari Senin, mending sekarang mikirin pasar aja. Kalau bicara soal pasar, yang terbayang pasti penjual ikan, tomat, suara berisik, dan semacamnya. Heran kenapa pasar identik dengan yang kayak gitu.  Padahal kan itu semua emang benar adanya *ini sebenernya ngomong apa sih* Berhubung kemarin pas libur nemenin Ibu ke pasar tradisional, ada beberapa fakta yang baru aku amati. Jadi ketika si Ibu lagi asik belanja dan tawar menawar sama penjual, aku malah asik memperhatikan sekeliling pasar dan poto-poto. Bisa dipastikan si Ibu nggak sadar anaknya me

Suka Duka Jadi Wartawan

Enggak kerasa udah hampir setahun aku tinggal di Jakarta. Perasaan gaya bahasa aku juga engga banyak yang berubah. Palingan sih hati aja yang jadi lebih keras kayak Jakarta.. *eaakk* Tapi bukan soal hati yang mau aku ceritain. Aku lagi bersyukur aja, udah setahun jadi wartawan di Jakarta tapi enggak nelantarin blog ini sampe setahun juga.. *cari alesan lagi* *padahal blognya udah ditelantarin hampir setengah tahun* Sejujurnya sih, kenapa disempetin nulis lagi karna aku lagi pengen cerita soal suka duka jadi wartawan. Yah lebih tepatnya mau nyeritain dukanya aja padahal. Tapi biar judulnya keren akhirnya pake kata suka duka. Buahahahak. Jadi kemarin pas aku lagi libur dan engga ada kerjaan, aku iseng-iseng googling berita soal terkejutnya Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) gara-gara penutupan gerai perusahaan ritel ternama di Indonesia , sebut aja Hero Group. Berita itu sebenernya follow up dari berita temen aku yang sebelumnya udah nulis hal yang sama di sini . Ternyata oh

Akhirnya Resign Juga!

“Kalau kita mau masuk ke tempat yang baru, kita harus siap untuk meninggalkan yang lama,” Manusia Setengah Salmon Holaaaa... Jadi ini postingan keduaku di tahun 2017. Enggak kerasa waktu cepet berlalu. Udah April aja, padahal postingan baru satu. *kemudian dilempar sendal karna malesnya kebangetan*. Sebenernya sih di postingan kali ini pengen nyeritain soal resolusi 2017. *trus dilempar kaos kaki bekas karna udah basi* Yahh, daripada enggak sama sekali ya kan..huahahaha.