3 Nov 2013

Wisuda, Bunga dan Es Teh


Bagi sebagian orang, wisuda merupakan moment-moment bersejarah yang selayaknya dirayakan. Bagi sebagian yang lain, wisuda merupakan peluang untuk meraup keuntungan. Sebagiannya lagi merasa kalo wisuda adalah saat yang tepat untuk mencari pasangan *kedip-kedip mata* *kemudian dilempar obat tetes mata*.

Beberapa minggu yang lalu aku habis menghadiri wisuda sahabat-sahabatku di UMY dan otomatis aku ke sana nggak dengan tangan hampa, tapi harus ngebawa sesuatu seperti layaknya manusia-manusia normal yang datengin wisuda teman dekatnya. Bisa dimengerti ya gimana kalo aku ke sana nggak bawa apa-apa. Bisa-bisa besoknya mereka bakal pura-pura nggak kenal aku dan itu artinya aku udah nggak dianggap sahabat lagi. Untuk menghindari hal itu, aku dan Yuan – salah satu dari geng, ngebawa bunga dan boneka kecil. Untungnya sih kami beli itu di pusat penjualan bunga daerah Kota Baru di Jogja jadi bisa mesen sesuai budget.

Sebenernya saat ada moment wisuda, penjual bunga juga jadi menjamur dan tiba-tiba datang nggak tau darimana. Cuma gila aja, pas iseng nanya harganya ternyata bisa lebih mahal sekitar 10-20 ribu rupiah booowk! Dan itu benar-benar mengganggu pikiranku sampai berhari-hari. Ini nggak mungkin! Ini nggak mungkin terjadi! Mereka bisa untung banyak kalau laku semua. Jadi, setelah itu aku nggak tinggal diam. Aku bertekad bakal ngebalas semua ini dengan...ikut jualan bunga! Nah, pas banget minggu depannya temen kontrakanku juga akan melangsungkan wisuda. Aku langsung mesen beberapa buket bunga untuk dijual dan juga membeli peralatan untuk ngejual es teh. Berhubung cuaca Jogja kalo siang panas banget, aku yakin es teh pasti laku keras. Akhirnya, ketika saat itu tiba dimulailah percobaan pertama jualan di moment wisuda. Tapi tenang, aku nggak sendirian karena udah ngajak Etha dan Amel – pasukan teman-teman penyiar yang mau diajak nyari duit. Hihi. 
Persiapan jualan

Mari jualan

Awal-awal nawarin dagangan ke orang, sama sekali nggak ada yang mau beli. Giliran ditawarin, ada yang geleng-geleng kepala, ada yang cuma senyum nggak jelas, ada juga yang malah ngegodain penjual-penjual cantik ini. Huh. Ternyata jualan itu nggak mudah yah. Kalau es teh sih jangan ditanya, itu laku banget. Apalagi kami ngejual dengan harga standar 3000 rupiah per cup. Nah, aku nyaris hopeless saat bunga belum ada yang laku, padahal hampir satu jam kami di sana. Tapi ketika perasaan hopeless itu muncul dan aku sudah mulai lelah dengan semua itu *ceilah*, tiba-tiba ada sosok yang mendekat ngebawa cahaya di bunga-bungaku. 

Jangan-jangan dia malaikat?

Setelah kulihat lebih jelas, ternyata dia manusia yang mau beli bunga buat pacarnya. Ihiir. Untungnya lagi dia nggak ada tawar menawar dan langsung beli aja tuh bunga yang aku pilihin. Alhamdulillah. Setelah itu, semangat ku mulai muncul lagi. Dan eng-ing-eng, aku bisa ngejual semua bunga dengan bantuan dua teman-temanku juga. Horeee!!

Ada rasa kepuasan ketika jualan habis, walaupun mungkin untungnya nggak seberapa dengan capeknya. Tapi,rasa puas dan pengalaman itu rasa-rasanya nggak bisa tergantikan dengan uang. Dari sini aku mulai belajar berbisnis walaupun masih kecil-kecilan sambil berharap dan berdoa  siapa tau nantinya aku malah bisa buka toko bunga dan punya kedai minum teh yang besar. Jadi, mulai sekarang aku akan memaknai moment wisuda sebagai ajang nyari duit dan mengasah skill jualan. Ada yang mau ikutan? :D
setelah selesai jualan baru foto bareng
 

3 komentar:

  1. aku pernah. jualan figura foto. ndak laku blas :)))
    salah momen, atau salah dagangan...

    BalasHapus
  2. jualan minum itu penting banget!

    BalasHapus
  3. bener, minuman itu penting banget, tapi jangan 3000 juga kali neng... :) 5000 gitu..

    BalasHapus